Terserah Anda…

May 3, 2008

kok ketidakbenaran dibenarkan ya?

yang ngomong kebenaran disepelekan, diasingkan…

gimana nantinya?

_ _ _
Gw pernah ke sebuah rumah makan, tempatnya di Jagakarsa. Namanya juga rumah makan, pasti punya karyawan. Tapi ada yang spesial!
Karyawan disana dididik sama si empunya restoran supaya jangan cuma jadi karyawan doang bisanya. Sekarang boleh jadi karyawan, ntar lama-lama jadi bos. Buka usaha sendiri. Harus punya ketrampilan.

Gw jadi inget kata Engku Sjafe’i (kalo mau tau buka ni: http://budidayak.blogspot.com/2007/07/dimanakah-engkau-engku-dan-ki-kini.html)

“Lebih baik menjadi tuan kecil, daripada menjadi budak besar”

Jadi si pegawai-pegawai tadi kalo udah siap buka lahan pekerjaan baru, bilang ke empunya restoran kalo dia udah siap bikin usaha. Trus si pegawai bakal nyariin orang-orang baru buat ngegantiin dia dan dididik lagi sama si empunya restoran supaya ngak cuma jadi karyawan doang. Begitu seterusnya. Hebat!

Jadi, si empunya restoran bisa mencetak kader-kader businessman baru. Belajar langsung dengan praktek!

Emang harusnya begitu, jangan kebanyakan teori. Ntar otak kita udah kepenuhan duluan lagi. Makanya, kalo yang udah penuh, refresh aja.

Ini juga penting:
Semua orang pinter, tapi punya kepinteran di bidangnya masing-masing. Iya kan?

Terus kalo ternyata Orang yang gak suka pelajaran A tapi harus bisa dengan pelajaran A karena di UAN-kan gimana?

Pastinya dia ngambil jalan curang (terpaksa), karena… Anda tahu sendiri-lah.

Gw bingung sama menteri pendidikan Indonesia, Bambang S.
Kok dia gak ngerti sama hal begituan ya? Manusia kan diciptain berbeda-beda, supaya bisa saling menghormati. Live together in perfect harmony.

Inget, eksekutif pendidikan cuma segelintir orang, lebih banyak muridnya daripada eksekutifnya. Kenapa kita mesti menjadi begini? Bikin-lah pergerakan!

Terserah lu mau nanggepin ini kayak gimana, tapi kalo isi tulisan ini bertentangan dengan nurani lo, hapus aja…

Udah ah, gw mau nge-refresh otak gw dulu. Pokoknya Do What You Love !


Ketidakharmonisan

May 3, 2008

Coba tebak, ada berapa nada dalam satu oktaf? 7 atau 12?

Kalau jawaban Anda 7 berarti Anda belum dapat melihat sesuatu dengan jeli atau barangkali Anda sedang kelelahan atau lupa. Yaaa, banyak faktor x-nya lah. Kalau Anda menjawab 12 berarti Anda sudah menyadari bahwa selain ada nada Mayor ada juga nada Minor. Yang mana yang mayor? Yang bertuts putih. Yang minor? Yang bertuts hitam.

Coba Anda bayangkan apabila kedua nada tersebut dimainkan. Harmonis dan enak didengar

kan? Tapi kalau cuma salah satunya saja, sepertinya ada yang kurang.

Coba hubungkan dengan masalah pendidikan yang ada sekarang. Profesi mayor dan minor. Apakah itu? Profesi mayor adalah pekerjaan yang banyak diimpikan orang (karena katanya “menjanjikan”). Apakah ada? Ya, setiap orang pasti punya impian, tapi apabila kita lupa dengan profesi yang minor kita akan kebingungan! Profesi minor? Apa itu? Profesi yang jarang diminati karena katanya kurang “menjanjikan”. Tak perlu lah saya sebutkan contoh-contoh profesi mayor dan minor. Pembaca pasti sudah mengerti.

Coba Anda bayangkan, apabila di Indonesia sudah tidak ada petani, pemulung, dsb. Wah, kacau…

Memang kalau kita kait-kaitkan antara masalah MM(MayorMinor)ini akan bermuara kepada pemerintah yang korup. Yang hanya memperhatikan profesi mayor tapi mereka lupa mayor dan minor adalah satu kesatuan, saling berhubungan, enak didengar. Coba kita lihat sistem pengajaran di sekolah-sekolah sekarang. Wow! Saya sebagai pelajar merasa bingung. Hampir semua mendewa-dewakan mayor! Yang diajarkan di sekolah hanya sebatas pelajaran yang hanya menjual teori saja. HDK (Hanya Diatas Kertas).

Ya-ya-ya, memang sikap orang Indonesia dari dahulu adalah suka menerima tetapi tidak menelaahnya dulu sebelum menerima sesuatu itu. Kadang sesuatu yang diterima itu hanya kulitnya saja yang manis, tetapi isinya pahit. Hmmm, coba kita lihat berbagai protokoler negara yang cenderung kaku dan kenapa semua mengikuti itu kalau sudah tahu itu kaku? Contoh lain: penggunaan kata Yang Terhormat, pengadaan Ujian Nasional bagi jenjang SD sampai SMA. Coba kita dulu hanya menerima janji Jepang untuk memerdekakan kita, lalu kita tidak mengumandangkan proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, mungkin sampai sekarang kita belum merdeka (walaupun sekarang belum sepenuhnya).

Sebagai pelajar, saya mengharap dukungan dari para Pelajar Republik Indonesia untuk merubah budaya Arim (Asal nerima) saja. Karena benar kata Pramoedja Ananta Toer, “Kebenaran tidak datang dari langit, tetapi harus diperjuangkan!” dan di Al-Quran ditulis (intinya) “Apabila ilmu telah datang kepadamu maka janganlah kamu mengingkarinya.”

Prediksi saya, kalau Indonesia masih saja menerapkan budaya instan, Arim, ABS (Asal Bapak Senang), KKN, UUD (Ujung-Ujungnya Duit), dsb. Mungkin nama Indonesia sudah tidak ada lagi di peta dunia. Artinya kita dijajah lagi karena ulah kita sendiri! Tapi ini kan hanya prediksi, kalau kita bisa menghilangkan budaya-budaya negatif tadi. Prediksi saya, Indonesia akan menjadi Mercusuar Revolusi Dunia. Dunia apa? Dunia yang damai dan sejahtera.

Haha, kembali ke mayor-minor. Lalu bagaimana supaya pendidikan di Indonesia tidak hanya untuk yang mayor saja?

Menurut saya begini:

1. Jangan jadikan UN sebagai penentu kelulusan semata.

2. Jangan adakan pemilihan jurusan IPA/IPS di SMA, tetapi juruskan siswa-siswi ke jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka.

3. Hapus kelas akselerasi.

4. Guru harus lebih memperhatikan murid supaya tidak terjadi budaya “Senioritas yang Berlebihan” di sekolah.

5. Tingkatkan gaji guru.

6. Untuk kepala sekolah, harus lebih mengutamakan musyawarah daripada keputusan sepihak.

7. Kalau pemerintah ingin melakukan studi banding tentang pendidikan, lakukanlah ke Finlandia. ( sistem pendidikannya terbaik di dunia ).

8. Pelajari kembali tentang prinsip-prinsip bapak pendidikan

Indonesia

. Ki Hadjar Dewantara.

9. Butuh kerjasama dan dukungan dari semua pihak, agar keharmonisan mayor-minor terlaksana.

10. Bisa Anda tambahkan sendiri kalau masih kurang.

Mungkin masih banyak yang kurang, ya, itu bisa Anda tambahkan. Nobodys perfect. Ini baru masalah pendidikan, masih ada masalah yang lebih besar lagi. Mau dibawa kemana NKRI bergerak dalam percaturan dunia? Itu akan terjawab apabila masalah pendidikan dan hukum telah terselesaikan dengan baik.

Sekian, maaf apabila ada kesalahan.

SSW


CO (karbon monoksida)

May 3, 2008

Karbon Monoksida(CO) sangat berbahaya!!!
Lebih cepat terikat daripada O2 (oksigen)
Oi, pada ngerasain gak? Kalo sekarang makin banyak CO?

Gw sering ngerasa kekurangan O2 ni, sering nguap.

Berarti bahaya CO udah di depan mata!!!

Solusi?
Menurut gw begini, Gimana kalo pemerintah sebaiknya mengaktifkan lagi trem listrik.
Manfaat trem listrik:

1. Tidak semrawut seperti angkot dan bus, karena berjalan diatas rel
2. Tidak sepolusif angkot dan bus, karena memakai listrik

Udah ikut konferensi perubahan iklim, berarti harus ada tindakan nyata buat mengurangi pemanasan global…

Masih banyak cara lain, tapi salah satunya itu.
Gimana?


Ilmu

May 3, 2008

Pertama, gw ngasih ayat Al-Quran di blog gw ini bukan untuk kalangan yang beragama Islam aja, tapi buat semua. Ambil esensi dari ayat tersebut apabila itu relevan dengan keadaan kita sekarang! Karena Islam adalah agama yang cinta damai, dan membenci permusuhan. Kalo soal teroris-teroris yang udah menewaskan orang-orang yang gak berdosa itu. Sama seperti dia membunuh semua manusia di muka bumi ini (ada di Al-Quran). Berarti teroris adalah musuh Islam.

QS 2:151

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.

Wow, saya takluk membaca ayat itu!
Sungguh semua Ilmu adalah milik Allah! Kita hanya mempelajari fenomena yang terjadi saja, contoh:

Dalam fisika: Fenomena alam semesta yang akhirnya kita rumuskan dalam penalaran matematis
Dalam Biologi: Fenomena tubuh kita
Dalam hukum: Tentang keberadaan hukuman mati, ternyata sudah tercantum di dalam Al-Quran (QS 2:178)
dan lain-lain.

Kita cuma mempelajari fenomena di alam ini, yang sebenarnya diarsiteki oleh satu kekuatan. Kekuatan Allah SWT.
Subhanallah!

Jadi, tidak pantaslah kita sombong bila kita menguasai suatu ilmu. Karena kita tidak menciptakan ilmu tersebut, tapi hanya mempelajarinya. Semakin kita berilmu, semakin kita rendah hati.

Kata Ki Hadjar Dewantoro :
Ing madyo mangun karso
Ing karso sung tulodo
Tut wuri handayani
Intinya “membisakan yang tadinya tidak bisa (saling berbagi ilmu)”

Bukannya gw sok menggurui ya, tapi gw cuma pengen ngeluarin yang lagi gw pikirin. Semoga bermanfaat buat gw dan yang lainnya.


Tentang Sejarah…

May 3, 2008

Setelah mendapat kecaman dari masyarakat luas dan beberapa gubernur mengancam tidak mau mengirimkan lagi calon prajanya ke IPDN, akhirnya kasus kematian Clif Muntu dibahas di Istana Negera. Pemerintah memutuskan IPDN tidak akan menerima praja baru pada tahun 2007-2008 guna dilakukan penataan kembali. Sementara, Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi dilaporkan ke Mabes Polri. Berdasarkan laporan, sejak 1993 hingga kini ada 27 praja IPDN yang tewas diduga akibat kekerasan.

IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) berdiri sejak 1956 di Malang. Pada 1965-1970 IPDN menyebar ke-20 propinsi. Pada 1989 ke-20 IPDN itu disatukan di Jatinagor, Subang, Jawa Barat. Setiap lulusannya dikukuhkan oleh Presiden RI sebagai calon pamongpraja muda. Sampai saat itu tidak pernah ada praja yang meninggal dunia. Ada yang menduga, karena pelatihnya militer yang mengetahui anotomi tubuh — bagian mana yang tidak boleh dan berbahaya bila dipukul.

Pemerintah kolonial Belanda, terutama pada saat liberalisasi menjelang akhir abad ke-19, memerlukan tenaga-tenaga pamong praja untuk ditempatkan di departemen-departemen, perkantoran pemerintahan dan juga berbagai kongsi dagang. Maka didirikanlah kantor departemen Binnenlands Bestuur (BB) yang mengurusi soal-soal pemerintahan dalam negeri.

Saat itu di Batavia berdiri sekolah pamongpraja OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Amtenanareen) dan Mosvia (Middelebare Opleiding School Voor Inlandsche Amtenaren).

Kedua sekolah pamong praja itu khusus untuk pribumi. Mereka akan dipromosikan sebagai bupati, patih dan wedana. Memasuki era kemajuan, jabatan — yang semula turun temurun pada bangsawan terkemuka — itu memerlukan tenaga yang lebih profesional.

Sebagai negara yang menjajah, Belanda mengadakan diskriminasi dalam soal jabatan. Gubernur jenderal, gubernur, residen, asisten residen, dan kontrolir, dipegang oleh Belanda. Karena banyak lulusan BB yang setelah memegang jabatan melakukan korupsi, maka sebagai ejekan BB diplesetkan menjadi ‘buaya besar’.

Pada era liberalisasi, modal-modal raksasa dari Belanda, Inggris, AS, Jerman, dan Prancis, memasuki Hindia Belanda. Didirikanlah Perguruan Tinggi Kedokteran (Geneeskumilige Hoge School — GHS) di Batavia. Selain itu, juga ada perguruan tinggi untuk mencapai Meester in de Rechten (MR) — kini sarjana hukum — di Jalan Medan Merdeka Barat yang gedungnya kini menjadi Departemen Hankam. Sedangkan di Bandung didirikan Technische Hoge School yang kini menjadi ITB.

Menjadi pertanyaan, apakah di berbagai perguruan tinggi, termasuk pendidikan pamong praja, saat itu sudah menerapkan sistem perpeloncoan. Yang pasti, sistem perpeloncoan itu merupakan warisan Belanda. Meskipun sejauh ini, berdasarkan data-data sejarah, tidak ada berita-berita mengenai korban tewas akibat kekerasan para seniornya. Di Belanda sendiri sejak 1960 sistem perpeloncoan sudah dihilangkan. Sementara, saat itu di Indonesia justru sedang digalakkan.

Seorang kerabat saya, Dorodjatun Kuncoro Yakti, menceritakan pengalamannya saat menjalani perpeloncoan ketika masuk UI pada tahun 1960. Waktu itu, sampai akhir 1960-an, mahasiswa yang diplonco diharuskan naik sepeda, memakai topi mancung, lalu di dadanya tergantung tulisan ‘Martabak Angus’. Karena dia agak hitam, maka diberi gelar demikian. Bukan ‘Arab keling’. Sebab, tidak dibenarkan memakai nama samaran yang berbau SARA.

Selama perpeloncoan, biasanya sang senior menyuruh yuniornya makan bubur dicampur minyak ikan. Kepalanya diguyur obat cuci perut yang juga berbau amis. Dia sendiri bersama rekan-rekannya pernah dilempar ke kolam renang di Jalan Kimia, di samping RS Tjipto Mangunkusumo. Tapi, ada orang yang siap untuk menolongnya, guna mencegah jangan sampai jatuh korban jiwa.

Kalau sang senior agak galak, biasanya yang dipelonco diperintahkan untuk push up sampai puluhan kali. Almarhum Firman Muntaco dalam Gambang Jakarte menceritakan kisah seorang plonco yang diberi gelar Koboi Cengeng. Ketika mengayuh sepedanya, iseng-iseng Koboi Cengeng mengenang hari-hari kemarin penuh suka duka.

”Jongkok…!” teriak senioren.
Rame-rame para plonco pada jongkok dengan mata tertutup slampe (saputangan). ”Ayo nunduk, nunduk! Jangan ngintip. Awas, kowe!”

Gunting-gunting pun pada berbunyi. Pembotakan dimulai. ”Babad saja, jangan kasih ati. Arit terus tu alang!” Maka rambut-rambut yang berombak, yang berjambul tinggi, yang bermodel GI (modal rambut tentara AS, ketika itu istilahnya cepak - Red), semua lenyap. Sebagai gantinya, ada kepala yang kayak tales, dan ada yang berambut seperti sikat kakus.

Dia juga ingat ketika keesokan harinya disuruh menyapu jalan trem. Tapi, ada yang menyenangkan sewaktu menghadap Nona Besar yang manis. ”Ha, koboi cengeng, pantes sama mukamu ya! Huh, kamu mau jadi dokter?” ”Ya, Nona Besar,” jawabnya sopan.
”Supaya lekas kaya?”
”Bukan, Nona Besar. Supaya bisa nulung orang sakit.”
”Hi hi hi, macemmu!” si Nona Besar ketawa dan tiba-tiba, ”He, kamu sudah punya meisye?”
”Belum, Nona Besar.”
”Ai… ai…, ketinggalan zaman! Kau mau sama saya!”
”Mau.”
”Mau? Punya dulu oto tiga biji, baru boleh bilang begitu. Ayo pigi!”

DISADUR TANPA PERUBAHAN DARI :

http://alwishahab.wordpress.com/2007/05/


Al-Quran Nur Kariim

May 3, 2008

Menurut gw, lebih baik kalo baca Al-Quran artinya dibaca juga. Soalnya kenapa? Yang penting di Al-Quran tu bukan tulisan arabnya, tapi maksud tulisan tersebut.

Emang ngebacanya dapet pahala, tapi kalo kita ngerti isinya terus kita mengamalkannya bukannya pahalanya lebih gede daripada sekedar ngebaca huruf arabnya doang?

Nah, gw harap dalam program tadarus hari Jumat di sekolah gw, artinya juga dibaca. Di Islam tampaknya semakin sedikit yang “benar-benar membaca Al-Quran”

Gw juga lagi berusaha “benar-benar mengaji” bukan cuma membaca, walaupun banyak godaan. Bantu doa ya.

Tolong koreksi apabila ada kesalahan.


ini postingan pertama gw waktu blog gw masih di friendster

May 3, 2008

Tentang kupu-kupu…

dia cantik, tetapi dia merasa dirinya tidak cantik.
dia malu untuk didekati.
dia tidak membuat penghuni alam yang lainnya iri dengan kecantikannya.
dia menyejukkan siapapun yang melihatnya.
dia memanfaatkan dengan baik kesempatan hidupnya, walau sebentar.
Subhanallah
begitu hebat ciptaanNya

semoga itu sifat pasangan hidupku…


Pertama ! Di WordPress

May 3, 2008

Gara-gara baca novelnya Andrea Hirata yang judulnya Edensor, sama disaranin sama temen gw buat bikin blog. Akhirnya gw bikin deh ni blog…

Tapi,, kok namanya lampuminyak ya?

hehehe, gini…

Menurut gw, gw tu kayak lampu minyak. Kalo minyaknya lagi banyak terang, kalo lagi dikit redup. Pokoknya setiap hari tuh minyak harus diisi. Kalo kosong ya gak nyala. Dan,,,

Di lampu minyak kan ada sumbu supaya minyaknya itu bisa ke atas dan setelah disulut korek api akhirnya nyala deh lampu minyak itu. Sumbu itu sekarang yang lagi gw naikin. Sampe akhirnya disulut api dan menyala…!!! Lalu mati selamanya…

Sekarang minyaknya baru dikit nih, gw lagi pengen nyari minyak yang banyak supaya nyala apinya besar! Dan, terserah lo nantinya mau nanggapin tulisan-tulisan gw kayak apa… Yang penting, terus berkarya!

Cukup segitu-lah post pertama gw.