JJS (jalan-jalan spala)

May 17, 2008

Spala? apaan tuh…?

itu nama kelas X gw. Itu nama gak ada maknanya, keluar aja tiba-tiba dari mulut temen gw, eh langsung sekelas pada setuju buat make tuh nama buat nama kelas…

Emang unik kelas gw yang satu ini, pertama gw kira ini kelas sarangnya preman, liat muka anak-anaknya serem-serem. Gak taunya, setelah kita semua ngobrol-ngobrol dan ngobrol. Malah akrab. Ada satu yang spesial di kelas ini! Ini kelas terjujur yang pernah gw temui!!!

Kenapa? Soalnya setiap guru-guru yang kurang bisa ngajar(kalo ngajar murid-muridnya bingung dia ngomong apa…) pasti ngak akan bisa betah mengajar di kelas ini. Pasti guru-guru tersebut akan bilang ke wali kelas gw, yaitu : “Pak, muridnya bandel-bandel pak! Gak bisa diem!”.

Dan guru yang bilang begitu, itu guru yang emang kurang bisa ngajar, masa kita udah capek-capek ke sekolah dapet guru yang kayak gitu…..

Tapi sekalinya kelas gw dapet guru yang bagus, wow!!! Semua muridnya langsung diem, merhatiin, dan murid-murid yang tadinya langganan remed (yang cowok semuanya langganan remed) jadi lulus ujian semua (gak remed) karena si guru tersebut enak ngajarnya…

Tapi kalo yang gak enak, bisa ditebak-lah hasilnya… Mesin cetak yang jelek menghasilkan cetakan yang jelek juga… ya ngak?

Nah, ini dia. JJS

JJS itu acara jalan-jalan kelas gw. Pertama kali diadain gw lupa tanggalnya, tapi yang pasti waktu itu gak ada rencana mau kemana. Orang-orang udah pada ngumpul tapi gak tau pada mau kemana. Hahaha.

akhirnya gw mengusulkan “kita ke kota tua aja, ngeliat museum bank mandiri!” Karena sebelumnya gw pernah kesana. Waktu itu gw jadi panitia perjalanan dadakan + sarip sang navigator busway (dia paling sering naik busway, cabut LIA aja naek busway sendiri keliling kota). Itu JJS pertama, rute-rute JJS selalu menarik : pernah ke ragunan, Glodok (JJS khusus cowok), Nonton, dll.

Kalo JJS terakhir kita ke, museum Bank Indonesia (masih lumayan baru museumnya). dan emang jakarta yang menarik dan gampang dijangkau adalah daerah kota dan sekitarnya, daerah menarik lainnya kendaraan umumnya susah…

Buat JJS yang berikut, gimana kalo kita berwisata ke KRB naik Kereta Rel Listrik? atau nonton di Mulia Agung Teater? Makan nasi goreng Kebon Sirih? Wisata rohani ke tempat-tempat ibadah? Ato kemana-lah gitu…

Kalo ada yang punya tempat/rute wisata yang menarik kasih tau ya…

sekian.


BANDOENG, beeld van een stad

May 17, 2008

Eh, fotonya miring…

Bodo ah,

Judul Bahasa Indonesia-nya Bandung, citra sebuah kota…

Itu judul sebuah buku, karangan Robert P.G.A Voskuil, dkk.

Baru gw baca seperempatnya, tebel sih (271 halaman++)

Isi bukunya menarik! Dengan kover depan yaitu gedung Kantor pusat bank jabar sekarang.

Memang, Bandung kota yang cantik (seperti kebanyakan gadisnya…) kota yang teratur, Parijs van Java dan dulu kota ini sempat dipromosikan oleh gubernurnya untuk menggantikan Batavia sebagai ibukota Hindia-Belanda. Yang terkenal dengan gedung GB (Governors Bedrijven) atau sekarang Gedung Sate.

Dulu, sebelum jalur kereta api Batavia-Bandoeng belum dibuka. Orang-orang pergi ke Bandung menggunakan pedati melalui Groote Post Weg(jalan Raya Pos), dan setiap 6 paal (9 Km) ada pos perhentian. Mereka berhenti untuk mengganti kuda penarik pedati yang sudah lelah berjalan dengan kuda yang masih segar. Tapi dengan dibukanya jalur KA Batavia-Bandoeng lebih menolong kuda-kuda tersebut untuk bisa beristirahat dengan tenang di kandang…

Kota Bandung sendiri dikembangkan oleh Belanda setelah bakal kota (calon kota, keadaan sebelum menjadi sebuah kota) ini dilalui oleh Jalan Raya Pos. Setelah Daendels (Dikenal sebagai Marsekal Besi, karena kejam) menetapkan kilometer 0 Bandung. Dan disitulah pembangunan kota Bandung dimulai.  Km 0 berada dekat Hotel Savoy Homann.

Untuk militer, Bandung tidak ketinggalan. Dengan didirikannya Departemen Peperangan (dekat taman lalu lintas sekarang), pabrik senjata (PINDAD sekarang), lapangan terbang Andir (Bandara Husein Sastranegara sekarang), serta Stasiun Radio Malabar yang sekarang sudah tinggal puing (hanya menyisakan bekas kolam di depan gedungnya)

Untuk pendidikan, dibangunnya Technische Hoogeschool (Sekolah Tinggi Teknik, sekarang ITB), 9 sekolah MULO(setara SMP), 2 Gymnasium, 1 AMS (setara SMA), 3 HBS (sekolah lanjutan 5 tahun), 2 Kweekschool (sekolah guru), 5 Vakschool, 3 Nijverheidschool (sekolah kejuruan industri/kerajinan), 3 Handelschool (sekolah dagang) dan 1 Muziekschool (sekolah musik). Pada masa 1920-1930an.

Untuk olahraga, ada lapangan SIDOLIG (sport in de open lucht is gezond= berolahraga di ruang terbuka adalah sehat) sekarang lapangan itu telah menjadi lapangan Persib. Dan lain-lain.

Memang waktu itu (sebelum peristiwa Bandung Lautan Api) sangat pantaslah Bandung diberikan julukan “Parijs van Java” karena keharmonisan antara arsitektur gedung, kota, lahan terbuka, dsb. Tapi, dibandingkan dengan keadaan kota Bandung sekarang, lebih baik kita kubur dulu dalam-dalam gelar Parijs van Java itu. Semakin kacau penataan arsitektur bangunan kota dan jalan nya, semakin padat kendaraannya…

Tapi setidaknya di Bandung sekarang kita masih bisa menikmati sisa-sisa kejayaan Parijs van Java, karena masih ada jalan-jalan yang rindang dengan pohon (semoga nantinya pohonnya tidak ditebang secara arogan)

Perlu dibahas juga tentang Bandung Lautan Api, betapa hebat pemuda Priangan waktu itu…

Rela mengorbankan sebuah kota, daripada kemerdekaan Indonesia dirampas!

Kini, jangan sampai kota Bandung makin rusak lagi, kecuali sangat terpaksa seperti peristiwa Bandung Lautan Api.

Di tulisan ini gw cuma bisa ngebahas sebagian kecilnya, bukunya aja belom gw baca sampe habis…

Sedikit (sangat sedikit malah…) berbagi-lah kepada pembaca…