Eh, fotonya miring…
Bodo ah,
Judul Bahasa Indonesia-nya Bandung, citra sebuah kota…
Itu judul sebuah buku, karangan Robert P.G.A Voskuil, dkk.
Baru gw baca seperempatnya, tebel sih (271 halaman++)
Isi bukunya menarik! Dengan kover depan yaitu gedung Kantor pusat bank jabar sekarang.
Memang, Bandung kota yang cantik (seperti kebanyakan gadisnya…) kota yang teratur, Parijs van Java dan dulu kota ini sempat dipromosikan oleh gubernurnya untuk menggantikan Batavia sebagai ibukota Hindia-Belanda. Yang terkenal dengan gedung GB (Governors Bedrijven) atau sekarang Gedung Sate.
Dulu, sebelum jalur kereta api Batavia-Bandoeng belum dibuka. Orang-orang pergi ke Bandung menggunakan pedati melalui Groote Post Weg(jalan Raya Pos), dan setiap 6 paal (9 Km) ada pos perhentian. Mereka berhenti untuk mengganti kuda penarik pedati yang sudah lelah berjalan dengan kuda yang masih segar. Tapi dengan dibukanya jalur KA Batavia-Bandoeng lebih menolong kuda-kuda tersebut untuk bisa beristirahat dengan tenang di kandang…
Kota Bandung sendiri dikembangkan oleh Belanda setelah bakal kota (calon kota, keadaan sebelum menjadi sebuah kota) ini dilalui oleh Jalan Raya Pos. Setelah Daendels (Dikenal sebagai Marsekal Besi, karena kejam) menetapkan kilometer 0 Bandung. Dan disitulah pembangunan kota Bandung dimulai. Km 0 berada dekat Hotel Savoy Homann.
Untuk militer, Bandung tidak ketinggalan. Dengan didirikannya Departemen Peperangan (dekat taman lalu lintas sekarang), pabrik senjata (PINDAD sekarang), lapangan terbang Andir (Bandara Husein Sastranegara sekarang), serta Stasiun Radio Malabar yang sekarang sudah tinggal puing (hanya menyisakan bekas kolam di depan gedungnya)
Untuk pendidikan, dibangunnya Technische Hoogeschool (Sekolah Tinggi Teknik, sekarang ITB), 9 sekolah MULO(setara SMP), 2 Gymnasium, 1 AMS (setara SMA), 3 HBS (sekolah lanjutan 5 tahun), 2 Kweekschool (sekolah guru), 5 Vakschool, 3 Nijverheidschool (sekolah kejuruan industri/kerajinan), 3 Handelschool (sekolah dagang) dan 1 Muziekschool (sekolah musik). Pada masa 1920-1930an.
Untuk olahraga, ada lapangan SIDOLIG (sport in de open lucht is gezond= berolahraga di ruang terbuka adalah sehat) sekarang lapangan itu telah menjadi lapangan Persib. Dan lain-lain.
Memang waktu itu (sebelum peristiwa Bandung Lautan Api) sangat pantaslah Bandung diberikan julukan “Parijs van Java” karena keharmonisan antara arsitektur gedung, kota, lahan terbuka, dsb. Tapi, dibandingkan dengan keadaan kota Bandung sekarang, lebih baik kita kubur dulu dalam-dalam gelar Parijs van Java itu. Semakin kacau penataan arsitektur bangunan kota dan jalan nya, semakin padat kendaraannya…
Tapi setidaknya di Bandung sekarang kita masih bisa menikmati sisa-sisa kejayaan Parijs van Java, karena masih ada jalan-jalan yang rindang dengan pohon (semoga nantinya pohonnya tidak ditebang secara arogan)
Perlu dibahas juga tentang Bandung Lautan Api, betapa hebat pemuda Priangan waktu itu…
Rela mengorbankan sebuah kota, daripada kemerdekaan Indonesia dirampas!
Kini, jangan sampai kota Bandung makin rusak lagi, kecuali sangat terpaksa seperti peristiwa Bandung Lautan Api.
Di tulisan ini gw cuma bisa ngebahas sebagian kecilnya, bukunya aja belom gw baca sampe habis…
Sedikit (sangat sedikit malah…) berbagi-lah kepada pembaca…


