Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah

November 4, 2008

Saat ini mungkin sedang heboh-hebohnya para ilmuwan membahas tentang fenomena penyelarasan galaksi yang akan terjadi pada tahun 2012. Coba saja Anda cari data-datanya di internet dan Anda cocokkan dengan keadaan sekarang.

Ok, sekarang mari kita lihat apakah sejarah itu benar-benar pelajaran yang membosankan? Tidak! Mengapa? Karena siapa orang yang tidak senang apabila diceritakan tentang masa kecilnya? hehehe….

Tapi perhatian pembaca sekarang coba fokuskan ke sisa-sisa peradaban kuno di dunia ini. Seperti misalnya Candi Borobudur, Piramida di Mesir, Bangsa Maya, Bangsa Lemuria, dsb.

Ada lagi penemuan baterai purba di Baghdad, legenda Sangkuriang yang mengisahkan tentang proses terbentuknya kota Bandung (ada kecocokan antara penelitian ahli geografi dan legenda tersebut tentang sejarah terbentuknya Kota Bandung, baca buku : Bandoeng, beeld van een stad)

Bukankah itu semua menunjukkan bahwa manusia pernah mencapai suatu era kemajuan teknologi yang (mungkin) lebih modern dan lebih ramah lingkungan daripada masa sekarang? Itulah sepenggal fenomena s e j a r a h yang tidak bisa didapati di sekolah-sekolah umum saat ini. Hampir seluruh sekolah umum mengajarkan sejarah sebatas menghafalkan tanggal suatu peristiwa tanpa mengetahui apa m a k n a dari peristiwa tersebut. Hampir semua hanya mengabdi kepada selembar kertas ujian dan angka sakti yang bernama Nilai. Hei pembaca, apakah Anda merasa cara belajar yang seperti itu adalah cara belajar yang baik?

Memang, kalau menurutku hanya ada satu modal belajar, yaitu rasa ingin tahu. Kemauan untuk mempelajari dan bukan berarti terpaksa. Karena memang kita sebenarnya tunduk pada satu hukum alam yang bernama p r o s e s. Sekarang coba Anda tanyakan kepada para audiophillers, “Menurut Anda, mana yang lebih bagus, rekaman analog dengan piringan hitamnya atau rekaman digital dengan mp3-nya?”. Maksud rekaman yang bagus disini adalah saat didengar(diputar kembali, sound reproducing) enak didengar, noise level rendah, dsb. Mereka pasti menjawa rekaman analog dengan piringan hitamnya. Mengapa? Jawabannya, karena proses pembuatan piringan hitam itu dan rekaman analog memang memakan waktu yang lama, lebih lama dari proses perekaman digital. Tapi, kalau Anda lihat musisi-musisi yang sempat merasakan era rekaman analog, kebanyakan semuanya musisi berkualitas! Sedangkan kalau Anda lihat output dari rekaman digital. Kebanyakan mereka kurang berkualitas. Sekali lagi, mengapa? Itulah Pembaca, saat proses rekaman analog, semua dilakukan s a t u k a l i. Nah, sebelum mereka(musisi) merekam musik mereka. Mereka berlatih dahulu sampai bisa. Baru setelah mereka yakin mereka merekam musik mereka.

Memang, sekarang masih ada yang mempertahankan kualitas (co: Dream Theater lagunya panjang beneerrrrr hehehe…. tapi maennya rapi…) . Tetapi yang ecek-ecek banyak. Mengapa? Karena rekaman digital saat ini dapat membuat Anda tidak perlu susah-susah mengulang dari awal apabila ada kesalahan dalam perekaman musik. Cukup betulkan di bagian yang salah!

Tetapi ini semua kembali ke human factornya. Tujuan utama dibuat rekaman digital adalah mulia, agar proses perekaman lebih efisien. Tetapi ternyata dibalik itu ada yang lebih berbahaya! Yaitu budaya instan! Tak perlu bisa menyanyi bagus, karena nanti bisa dibetulkan dengan komputer (hehehe, teknologi emang pisau bermata dua). Nah, cobalah sesekali Anda bandingkan suara yang dihasilkan dari piringan hitam dan dari mp3.

Hehehe, jadi melenceng nih topiknya pembaca…

Tapi sebenarnya itulah sejarah yang sedang kita torehkan sekarang, sejarah Zaman Digital. Dimana pada zaman ini bilangan biner (bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1) sedang jaya-jayanya. Tapi, sekarang karena instan (yang menggoda) tadi telah membuat alam menjadi tidak seimbang lagi. Entah bagaimanakan kelanjutan dari tinta sejarah yang kita torehkan saat ini nanti.

Yang jelas alam telah memberikan contoh kepada kita, misal: Jarum kompas itu terbuat dari baja. Karena sifat kemagnetan baja sukar hilang tetapi saat kita mau membuat sebuah baja itu menjadi magnet sangatlah sulit. Berbeda dengan besi yang gampang dibuat menjadi magnet, tetapi sifat kemagnetannya mudah hilang!

Jadi, masih mau yang instan-instan?
(Mau lah, Indomi, kalo laper, terus cuma ada itu doang di lemari, terus duit abis…. mau makan apalagi? hehehe…)

sekian!

SSW